Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Maaf Aku Talak Engkau

 

Maaf Aku Talak Engkau

Namaku Robi, usiaku 27 tahun, kerja disebuah toko material yang menjual alat-alat bangunan.

Diumur yang menurut orang sudah pantas berrumahtangga namun aku belum menemukan belahan jiwaku.  Akhirnya karena desakan orangtua, aku menerima seorang perempuan pilihan bapak. Rumahnya tak jauh dari rumahku, orangtuanya sudah kenal baik orangtuaku. Singkat cerita dilakukanlah prosesi lamaran, kemudian tak lama setelah itu diputuskan tanggal pernikahan. Akad nikah dilaksanakan di kediaman sang pempelai istri. Setelah ijab qobul diucapkan akhirnya kita sah sebagai pasangan suami istri.

Ketika malam pertama, yang kata orang malam terindah sepanjang sejarah, hanya dilalui dengan biasa saja karena istriku tengah haid.
Keesokan paginya ketika hendak mandi, istriku menyuruhku mencuci pakaian dalam bekas haidnya, dengan alasan karena dia takut melihat darah.  Mertuaku hanya diam melihat istriku menyuruh mencuci pakaian dalamnya.  Ada sedikit perasaan tidak suka karena belum 24 jam menjadi suaminya, aku sudah disuruh membersihkan bekas haidnya, padahal dia adalah perempuan, gimana ntar kalo melahirkan? Selama mencuci pikiranku berkelana, "selama ini, siapa yang mencuci pakaiannya kalau dia takut melihat darah?" batinku.

Setahun kemudian, dia hamil. Selama setahun pernikahan akulah yang selalu mencuci pakaian bekas haidnya.

Entah dia memang manja atau manja bawaan hamil, yang jelas dia ingin selalu aku ada didekatnya, selama seminggu aku cuti gak masuk kerja karena istriku tak mau ditinggalkan. Keuangan semakin menipis, aku meminta pendapatnya untuk meminjam uang ke bapakku, tapi dia gak mau, dia hanya mau makan hasil kerjaku. "Aneh ni orang ditinggal kerja kagak mau, tapi ngasih makan mesti hasil kerjaku, gimana mau dapat duit kalau kerjanya aja gak boleh" akhirnya setelah memberinya pengertian, ku pergi bekerja kembali karena tidak mungkin selamanya diam di rumah, apalagi dirinya sedang hamil, harus mengumpulkan uang untuk biaya persalinannya nanti.

Setiap istirahat kerja aku selalu menyempatkan menelpon sekedar tanya keadaannya. Karena aku masih tinggal serumah dengan orangtuaku, aku menitipkan istriku yang memang selama hamil super manja, makan disuapi, kalau ke kamar mandi maunya digendong.

Sepulang kerja, orangtuaku mengadu merasa keberatan dengan sifat manjanya, apalagi bapak tadi sampai menggendongnya karena katanya lemas gak bisa jalan, kebetulan ibu belum pulang dari pasar, biasanya ibuku yang membantunya kalau aku tidak ada. Aku hanya bisa minta maaf dan mohon maklum karena dia sedang hamil, padahal dalam hati, akupun merasa risih karena selama setahun ini, sikapnya teramat sangat egois.

Suatu hari, mungkin karena kandungannya lemah, istriku keguguran. Ditengah rasa sedih, keluarga istriku menyalahkan orangtuaku yang tak becus mengurus menantu, karena geram, aku keluarkan semua unek-unekku kepada keluarganya, bahkan kubilang bapakku pernah menggendongnya ke kamar mandi karena dia gak mau jalan.  Apakah pantas seorang menantu manja minta digendong sama mertua laki laki? Semua kekesalan yang sudah lama terpendam aku keluarkan, keluarganya hanya diam mendengarkan kelakuan anaknya.  Mungkin mereka sadar, putri mereka memang keterlaluan manjanya, saat itu juga aku talak dia. Bukan tidak kasihan mengingat dia baru saja keguguran, tapi rumahtangga ini akan hancur jika dibangun dengan keegoisan dan saling menyalahkan.

Tamat 


Sumber



#kisahbijak #ceritabijak #cerpenmotivasi #masalahrumahtangga #cewekmanja #egois #salingmenyalahkan #intrik #intriks #menempuhhidupbaru #panduanhidup #tidakharmonis #masalahhidup #masalahperempuan #masalahwanita #isterimanja #istrimanja #perjodohan #keluargasamawa #parentuing #rumahtanggabahagia #pernikahan #perpisahan #talaq #talak #penyebabperceraian #pemicuperceraian #dijodohin #dijodoin

Post a Comment for "Maaf Aku Talak Engkau"

Berlangganan via Email