Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Besarnya Jasa Guru Bagi Kita


Guru Bijak Lagi Mulia


Simaklah kisah seorang Arab Badui yang masuk Islam pada masa Khalifah Umar Ibn Al Khattab Radiallahu'anhu.
Sang Khalifah lalu mengajarinya shalat. Beliau berkata, "shalat dzuhur 4 rakaat, ashar juga 4, magrib 3 rakaat, Isya 4 rakaat dan subuh 2 rakaat." Kisah ini terrekam dalam Al muntaqa, Min akhbaril Ashmu'i, himpunan hikmah Dhiya al-Maqdisi.

Arab Badui ini, rupanya sangat kesulitan untuk menghafal angka-angka tersebut.

Khalifah Umar lalu mengulanginya, dan tetap saja Badui itu tidak dapat menghafal bahkan menyebutkannya. Selalu saja terbalik-balik, setiap kali diulangi.

Pada akhirnya, sang Amirul Mukminin membentaknya, "orang Arab Dusun biasanya cepat hafal syair!"

Coba ulangi ucapanku:
Sesungguhnya salat itu 4 disusul 4, kemudian 3 dan setelahnya 4 rakaat, lalu shalat subuh 2, janganlah terlewat." Hanya sekali simak, lelaki Arab Badui itu langsung bisa mengulang lantunan syairnya.

"Sudahkah kau menghafalnya sekarang?" Tanya Khalifah Umar Bin Khattab.

"Sudah, ya Amirul Mukminin." Jawab sang Badui

"Kalau begitu pulanglah ke kampungmu dan ajarilah tetangga-tetanggamu!"

***

Saya sadar dan sesadar-sadarnya. Saya bukanlah murid yang pandai, terlalu Badui dari Arab Badui yang terkisah di atas.

Beruntungnya saya, layaknya lelaki Arab Badui itu. Saya Allah takdirkan bertemu dengan guru-guru yang bijak lagi mulia.

Saya tak suka fisika kala sekolah tapi saya senang dengan gurunya. Saya tak takut mata pelajaran matematika, tapi saya suka gurunya. Saya tak pandai bahasa Inggris & Arab, tapi saya gemar bertatap muka dengan gurunya.

Ah...
Kena bentak dan marah itu soal biasa. Apa bedanya kena bentak dan marah oleh orangtua di rumah dengan guru di sekolah. Bagi saya, sama saja. Keduanya sama-sama peduli akan saya. Bagi saya, itu adalah bentuk cinta dan perhatian agaknya.

Aalah..., dialektika belaka. Kata-kata kosong yang ingin cari muka saja. Padahal dihati mengurutu dan mengutuk gurunya.

Percaya atau tidak, saya malah paling senang bahkan punya kesan mendalam untuk guru-guru yang terkesan 'killer' di sekolah. Semisal guru olahraga saya.

Saya takut dan semua teman saya takut dengan guru olahraga. Takut karena rambut panjang, seragam tak lengkap, kukunya panjang, intinya tak taat peraturan dan tata tertib sekolah. Selain itu tidak ada masalah. Telah 15 tahun berlalu, saya ingat dengan beliau. Bahkan salah satu guru favorit dan menginspirasi saya.

Paradigma saya saat itu, saya akan berpikir keras, bahkan akan berupaya bagaimana guru yang katanya 'killer' itu bisa tertawa dan tersenyum kalau bertemu dengan saya. Syukur-syukur bisa menepuk-nepuk bahu atau mengusap-usap kepala saya.

Saya ingin membuktikan, terutama untuk diri sendiri. Tidak ada guru yang 'killer', yang ada hanya guru yang tegas, disiplin, penuh kasih sayang. Tentu sangat care dengan kesuksesan muridnya.

Orangtua kami benar-benar mengingatkan tentang perkara ini. Betapa besar jasa para guru bagi kami.
Kami yang dahulu tidak tahu, kini menjadi tahu. Kami yang tidak berilmu, kini menjadi berilmu. Kami yang duhulu bukan siapa-siapa, kini telah menjadi sosok dengan segala pencapaian yang mampu kami raih.


Sumber artikel
Sumber gambar





#katakatabijak #katakatamotivasi #katakatanasihat #katakatanasehat #katakatacinta #katakatalucu #katakatasedih #katakatabucin #katakatamutiara #katakatakeren #katakataromantis #katakataislam #katakataislami #katakatainspirasi #katakataig #katakatainstagram #katakataindah #kalimattakwa #kalimattaqwa #katakatagabut #selfreminder #kajianharian #sekedarberbagi #salingmengingatkan #kajian #ayohijrah #hijrahyuk #muslimah #ukhti #cintarasul

Post a Comment for "Besarnya Jasa Guru Bagi Kita"

Berlangganan via Email